Provinsi NTB Minim Tenaga Kesehatan
MENKES meminta seluruh bupati dan walikota se NTB meningkatkan kualitas kesehatan.
SELASA, 7 SEPTEMBER 2010, 17:27 WIB
Amril Amarullah
Menkes Endang sedyaningsih (ANTARA/Jefri Aries)
VIVAnews - Menteri Kesehatan Endang sedyaningsih menyatakan, Provinsi Nusa Tenggara Barat khususnya di kabupaten Bima dan Dompu, masih minim tenaga kesehatan. Seperti masih maraknya penyakit menular seperti demam berdarah, malaria dan vilarisis atau kaki gajah.
"Kualitas kesehatan di NTB masih perlu diperbaiki sebab masih banyak ditemukan kasus penyakit berbahaya disejumlah Kabupaten dan Kota di NTB," ujar Menkes Endang, saat bertemu dengan seluruh Bupati dan Walikota se NTB dalam acara rapat kerja kesehatan daerah di Hotel Lombok Raya, Selasa, 7 september 2010.
Menurut Menkes, tidak semua wilayah, bahkan beberapa wilayah di kabupaten dan kota NTB. "Tapi memang masih ada beberapa kabupaten yang tingkat penyakitnya masih tinggi seperti di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu," katanya kepada VIVAnews sesaat usai acara.
Lebih lanjut dia mengatakan permasalahan yang dihadapi NTB adalah kurangnya tenaga kesehatan baik di kabupaten dan kota terutama di pedesaan. Keberadaan tenaga kesehatan itu menurut Siti sangat penting mengingat masih banyak masyarakat di NTB yang hidup jauh dari keramaian.
Disamping itu masalah yang menjadi sorotan adalah jumlah kasus gizi buruk yang akhir-akhir ini masih ditemui di NTB. Maka itu dia berharap agar pemerintah daerah mampu memaksimalkan program dan dananya untuk menyelesaikan masalah itu.
Disinggung mengenai penyakit yang banyak ditemui di NTB, Endang sedyaningsih mengatakan terdapat beberapa penyakit seperti malaria, vilarisis atau kaki gajah, demam berdarah dan kasus gizi buruk. Endang optimistis pemerintah provinsi NTB dapat menyelesaikan semua penyakit itu.
"Tinggal bagaimana komitmen kepala daerahnya saja. Kalau memang berusaha keras hal itu bisa cepat diatasi. Saya kira di NTB proses menuju perbaikan sudah mulai digalakkan,harapan saya lima tahun mendatang NTB sudah bebas dari gizi buruk dan penyakit lainnya," ujarnya.
Kasus Gizi Buruk karena Ekonomi hanya 30 Persen
SENIN, 6 SEPTEMBER 2010 12:18:18 - SUBMITED BY : ADMIN
Kasus kekurangan gizi atau Gizi Buruk (GB) di Kabupaten Bima bermunculan. Meski sosialisasai intens dilakukan, namun kesadaran masyarakat dalam banyak aspek masih rendah. Munculnya kasus gizi buruk karena masalah ekonomi diakui oleh pihak Dinas Kesehatan (Dikes) hanya 30 persen.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Keluaraga Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Bima Heru Joko S, SKM, menyatakan, sebagian besar kasus GB yang muncul di Kabupaten Bima disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat tentang arti penting kesehatan. Beberapa kasus GB justru muncul dari kalangan masyarakat berekonomi menengah ke atas. “Tak selamanya faktor ekonomi itu berpengaruh, yang kami lihat, justru gizi buruk banyak muncul dari masyarakat yang ekonominya mampu,” kata Heru kepada wartawan, Rabu (4/3), di Dikes.
Menurutnya, selama ini telah banyak intervensi pemerintah dalam memberdayakan masyarakat atau mengurungi kemiskinan, diantaranya melalui distribusi beras masyarakat miskin (Raskin), Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), termasuk dalam meningkatkan derajat kesehatan melalui program jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). “Sudah banyak perhatian masyarakat selama ini, tapi itu tidak sepenuhnya tanggungjawab pemerintah saja, masyarakat juga yang harus punya kesadaran sendiri,” katanya.
Dalam hal pencegahan, katanya, pemerintah kerap kali membimbing atau menyosialisasikannya. Namun, tidak didukung kesadaran masyarakat. “Sosialisasi sudah sangat sering, tapi kan kalau tidak didukung kesadaran masyarakat juga percuma,” katanya.
Menurut Heru, sebagian kasus GB di Kabupaten Bima disebabkan multifaktor, diantaranya karena kurangnya perhatian orang tua, sehingga menyebabkan bayi telantar dan kesadaran kesehatan masyarakat rendah. Hanya 30 persen kasus yang disebabkan faktor kesulitan ekonomi. “Banyak juga orang tua atau ibu bayi, menelantarkan anaknya kepada orang lain, karena bekerja di sawah, maka yang terjadi asupan bagi bayi itu kurang,” katanya.
Sebagian penderita GB yang ditangani Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) katanya, karena faktor penyakit lain seperti diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Hanya sedikit yang disebabkan karena faktor ekonomi dan menurunnya sistem imun. “Kalau gizi buruk murni yang kami lihat hanya sedikit, sebagian besarnya disebabkan karena penyakit lain,” katanya.
Diakuinya, jika diakumulasi kasus GB di Kabupaten Bima kian menurun. Walaupun diakuinya dalam sebulan terakhir ada tiga bayi GB yang meninggal dunia masing-masing dua penderita dari Kecamatan Woha dan satu dari Sape. “Sesuai catatan kami, tahun 2010 hanya ada delapan kasus gizi buruk, dan kita perkirakan menurun,” pungkasnya.
Seperti dilansir Bimeks sejumlah orang tua pasien GB asal Kabupaten Bima mengakui penyakit kekurangan gizi yang dialami bayi mereka akibat minimnya asupan gizi. (BE.17). (sumbawanews.com)
Monday, 5 September 2010 •
MATARAM - Di Donggo Kabupaten Bima, 10 orang anak usia 5-9 tahun terserang campak. Selasa (7/9), tim Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat (Dikes NTB) mendatangi penderita dan mengambil sampel darah mereka untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Kecamatan Donggo dan Wera di Kabupaten Bima memang masuk peta merah wilayah campak di NTB.
Kepala Seksi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Bencana Dikes NTB dr.Beny Nugroho mengatakan, bahwa keadaan ini telah mulai dilaporkan 7 September lalu. ”Mereka telah menjalani perawatan di Puskesmas, ” ujarnya di sela buka puasa bersama Wakil Gubernur NTB Bonyo Thamrin Rayes di Dusun Sancara Desa Nunggi Kecamatan Wera, Selasa (7/9) malam.
Karena banyaknya penderita, walau 10 orang, sudah dinyatakan dalam keadaan KLB. Keadaan penderita campak mengalami bercak di kulit seperti cacar berisi air dan bisa berakibat menjadi nanah. Meskipun tidak berbahaya dan belum ditemukan adanya penderita yang meninggal, namun dikawatirkan menimbulkan penyakit ikutan pnemonia yang bisa menimbulkan kematian. Dan, Beny Nugroho mengatakan bulan September ini memang musim campak. Yang dikawatirkan adalah terjadinya dua masa inkubasi sehingga penularannya bisa berkembang ke lebih dari orang kedua.
Campak yang di daerah ini diwaspadai sejak 2006 sehingga masuk pemetaan berdasarkan kejadian epidemiologi menjadi Crash Program Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization).
Kecamatan Donggo dan Wera di Kabupaten Bima ini merupakan wilayah merah penyakit campak yang menjadi fokus perhatian. Daerah lainnya adalah Kecamatan Sape dan Woha. Timbulnya campak akibat masalah higienis yaitu air dan gizi buruk. Karena itu, masalah tenaga kesehatan seperti dokter, bidan desa dan adanya puskesmas pembantu harus mendaptkan perhatian untuk pendidikan kesehatan masyarakat. Apalagi daerah tersebut bukan daerah terisolir.
Sebenarnya, 1-2 bulan sebelumnya sudah dilakukan imunisasi campak. Namun adanya penderita ini tidak bisa disebut imunisasi yang tidak efektif karena berbagai sebab. Masih sedang diteliti, apakah karena imunisasi yang tidak efektif atau memang tidak diimunisasi sama sekali. Masa effektif vaksin lima tahun.
Data Dinas Kesehatan NTB sebelumnya yakni periode Januari hingga Juli 2010 sedikitnya ditemukan 109 kasus campak. Kasus tersebut diantaranya ditemukan di Kabupaten Bima 87 kasus, Kabupaten Lombok Timur 15 kasus, terakhir pada Juli lalu ditemukan 7 kasus campak di Kabupaten Dompu.
Terkait hal itu Dikes NTB telah meminta kepada Kepala Daerah di sembilan kabupaten/kota se NTB untuk mewaspadai kemungkinan munculnya campak termasuk juga meledaknya penyakit malaria yang diprediksikan pada bulan Oktober mendatang. “Campak di Bima termasuk tinggi dan NTB ini merupakan daerah endemis malaria,” katanya.
Ada beberapa jenis penyakit yang selama ini menunjukkan terjadinya KLB diantaranya, malaria, demam berdarah, antraks, campak dan gizi buruk. Namun dari sejumlah penyakit tersebut cenderung mengalami penurunan kecuali malaria.
Oleh karena itu sebutnya, para kepala daerah bersama Dinas Kesehatan setempat diharapkan sesegera mungkin melakukan langkah-langkah antisipasi dengan prediksi bakal terjadinya ledakan kasus malaria berdasarkan analisa kasus dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada 2005 lalu, kasus malaria di NTB terjadi pada Nopember dan Desember dengan itensitas mencapai 500 lebih kasus dalam sebulan. Saat itu sebanyak 18 korban meninggal, 16 diantaranya adalah berasal dari kabupaten Lombok Timur.
Namun pada 2006 kasus malaria menurun menjadi 116 kasus tetapi tetap saja dalam status KLB walau tidak ada korban meninggal, sedangkan pada 2007 puluhan kasus dan 5 meninggal.
Terhadap kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada 2004 lalu enam belas meninggal, 2005 lima belas meninggal, 2006 empat meninggal dan 2007 satu orang meninggal akibat DBD.(supriyantho khafid)