Senin, 09 Mei 2016

Penderita Diare di Kab Lomtim NTB Capai 530 Lebih
[Nusantara]Penderita Diare di Kab Lomtim NTB Capai 530 Lebih
Kandang Ternak, RPH Diduga Penyebab Pencemaran Kali Tanggak

Lombok Timur, Pelita
Status kejadian luar biasa (KLB) diare semakin meluas, status ini ditetapkan setelah korban semakin terus bertambah hingga menelan korban meninggal dunia dalam sepekan terakhir.
Puskesmas Batuyang salah satu tempat yang tidak bisa menampung pasien, sehingga didirikan tenda-tenda darurat di halaman. Tenda dengan panjang sekitar tujuh meter dan lebar tiga meter ini merupakan bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Lombok Timur.
Membludaknya pasien diare ini, memaksa para pihak Puskesmas bekerja ekstra siang dan malam merawat pasien yang terus berdatangan. Para pengelola Puskesmas merasa kewalahan karena kekurangan dokter dan tiang infus untuk menangani pasien diare, juga aktivitas keluarga yang menunggu di puskesmas menyebabkan banyak sampah, ungkap dr Emmi Tirtarisanti, salah satu dokter di Puskesmas Batuyang.
Menurut Sekretaris Daerah Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lombok Timur dr Utun Supria, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur akhirnya menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) bagi sepuluh puskesmas.
Puskesmas yang dinyatakan kasus luar biasa (KLB) meliputi; Puskesmas Aikmel, Wanasaba, Suela, Kalijaga, Batuyang, Lenek, Labuan Lombok, Sambelia, Belanting, dan Puskesmas Korleko.
Terjadinya status kejadian luar biasa (KLB) di beberapa lokasi ini ditenggarai bersumber dari aliran sungai Tanggek yang mengalir di sekitar wilayah-wilayah kejadian luar biasa (KLB) diare. Di sungai inilah masyarakat melakukan aktivitas mencuci, membersihkan alat rumah tangga dan mengambil air minum. Kebiasaan itulah yang menyebabkan berkembangnya wabah diare dengan cepat secara serentak.
Dari data terakhir Dinkes Kabupaten Lombok Timur, jumlah penderita diare sampai dengan saat ini mencapai 530 pasien penderita diare yang dirawat dari tujuh Puskesmas. Sedangkan ada tiga Puskesmas yang datanya belum masuk yaitu Sambelia, Belanting dan Puskesmas Korlekko.
Kandang ternak dan RPH
Supriadi salah seorang warga Toya Desa Aikmel Utara menjelaskan, jika dilihat dari kondisi air sungai Tanggek tidak ada yang berubah, baik secara fisik, bau warna dan rasa. Namun dari segi kesehatan harus dipertanyakan kualitasnya. Sungai Tanggek memiliki sumber mata air dari Gunung Rinjani, yang pemanfaatan airnya digunakan mulai dari Kecamatan Aikmel hingga Kecamatan Pringgabaya.
Bagi warga Aikmel air sungai Tanggek jarang digunakan untuk mandi dan keperluan lain. Jika dilihat dari Aikmel Utara di dusun Lian sejumlah kandang tanah kolektif milik warga berdiri di bibir sungai Tanggek. Pembangunan kandang- kandang kolektif di pinggir sungai ini, nampaknya disengaja agar pembuangan kotoran sapi lebih mudah untuk dilakukan. Namun mereka tampaknya tidak paham atas bahaya dari pencemaran kali Tanggek tersbut.
Ditambahkan oleh Isnaeni salah seorang warga Cepak Lauk Desa Aikmel, bahwa yang menyebabkan tercemarnya air sungai Tanggek ini karena di bawah jembatan Dasan Bagek Desa Aikmel berdiri rumah potong hewan (RPH).
Dari rumah potong hewan (RPH) inilah mengalir pembuangan langsung sisa darah dan limbah kotoran sapi. Selain itu masyarakat juga memanfaatkan sungai Tanggek sebagai tempat membuang sampah dan limbah rumah tangga seperti; pipa WC yang langsung menuju alliran sungai dan zat kimia berupa sisa sablon dan kerajinan industri rumah tangga.
Sementara itu di tempat salah seorang anggota DPRD Fraksi Partai Golkar Lalu Hasan Rahman, SPt menyatakan keprihatinannya terhadap penderita diare di Kabupaten Lombok Timur. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terkesan lamban dalam menangani kasus termasuk dalam kasus luar biasa ini.
Padahal kasus serupa adalah kasus yang terjadi setiap tahunnya, seharusnya pemerintah memiliki program dalam menangani kasus semacam ini.
Pencegahan wabah diare tersebut sudah jauh hari sebelumnya disampaikan melalui pandangan fraksi maupun Komisi B, namun masalah ini masih saja terjadi. Ada tidaknya anggaran semestinya harus ada program khusus untuk mencegah wabah penyakit seperti diare ini.
Di tempat terpisah Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ditemui wartawan mengatakan, wabah diare yang menyerang Kabupaten Lombok Timur membuat Pemerintah Daerah Provinsi NTB prihatin. Pemerintah Provinsi (Pemprov) berharap kasus yang sudah ditetapkan menjadi kejadian luar biasa (KLB) segera ditangani.
Pemprov akan membantu jika Pemkab Lombok Timur meminta. Karena penanganan wabah diare ini, sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Jika ada kebutuhan tambahan yang diperlukan, dia meminta Pemerintah Kabupaten setempat segera berkoordinasi agar penyediaan kebutuhan tersebut dapat segera diupayakan. (ck-205)

http://www.pelita.or.id/baca.php?id=69936

Tidak ada komentar:

Posting Komentar